Gonjang-ganjing mengenai masalah privasi di dunia maya sepertinya masih menyisakan pertanyaan di benak para penggunanya.
Here the story goes...
Beberapa hari yang lalu, saya nyolong file-file e-book dari komputer temen. Sesampainya di kosan, setelah harddisk terpasang, saya browse file-file tadi. Ada cukup banyak e-book yang saya dapatkan. Setelah beberapa saat melakukan ritual bongkar-membongkar, saya menemukan satu e-book Playboy edisi Maret 2008 lalu. Wehehehe... :D
File tersebut saya double click, dan mulai menyedot lembar per-lembar halaman digitalnya. Pada halaman Forum-nya saya menemukan artikel menarik, mengenai privasi dan anonimitas, khususnya di dunia internet. Nama Facebook cukup sering disebut-sebut dalam artikel tersebut. "Profiling for Profit - It's No Surprise Facebook is Selling Your Secrets," itu judulnya. Yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia kira-kira menjadi: "Menyusun Profil (orang lain) Demi Mencari Keuntungan - Bukan Sesuatu yang Mengejutkan bahwa Facebook Menjual Rahasia Anda."
Web 2.0 memang telah menancapkan kukunya dalam-dalam, mengubah paradigma dan pola berinternet manusia modern. Bila dulu, halaman-halaman website bersifat statis dan read-only, alias cuma bisa dibaca dan ga bisa dikomentari apalagi di-edit. Kini justru bermunculan tren-tren pendobrak seperti Social Networking (Facebook, Friendster, MySpace, Multiply, dsb), blogging, wiki, Social Bookmarking, dsb.
Kini tampaknya telah banyak pengguna internet yang berani memunculkan dirinya ke permukaan dengan berbagai alasan; mencari ketenaran, teman, dsb. Masih segar di ingatan saya, ketika awal perkenalan dengan internet semasa mengecap pendidikan di bangku SMP dulu (sekitar tahun 1998-1999). Prinsip 'jangan tunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya', secara perlahan mulai memudar. Apalagi ketika saya mulai mengenal apa itu IRC. Daftar nama alias tersusun rapi di otak saya, pun kerapkali bergonta-ganti, dan tiap nama alias terdaftar di server IRC yang bersangkutan serta diproteksi dengan password. Begitu pula dengan akun e-mail, satu e-mail untuk pribadi, satu e-mail untuk umum, dan entah ada berapa e-mail lagi untuk keperluan lainnya. Mengapa harus ada lebih dari satu nama alias dan alamat e-mail? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadi apapun dan siapapun yang saya mau. Tiap nama alias memiliki karakteristik dan kepribadian tersendiri begitu pula dengan alamat e-mail yang diasosiasikan dengan nama alias yang bersangkutan.
Ketika era Friendster mulai menunjukkan giginya, mulanya saya tidak terlalu acuh. Saya pun sempat memberikan statement, bahwa Friendster itu cuma untuk anak-anak remaja cewek saja. Eehhh... sekitar akhir tahun 2004 atau awal 2005, temen-temen kampus saya rame-rame mendaftarkan dirinya di Friendster dan pembicaraan di kampus pun sempat berubah, serba Friendster! Akhirnya, dengan malu-malu kucing sembari menjilat ludah sendiri, saya mendaftar juga di Friendster. Sempat keranjingan juga sie, hehehe... :P Tapi kini, akun Friendster saya entah sudah berapa lama ga disentuh. Ditambah lagi dengan datangnya pesaing-pesaing baru Friendster di dunia Social Networking; MySpace, Facebook, Multiply, dsb.
Begitu pula ketika era kebangkitan massal (atau kelahiran massal?) blog di tanah air, saya mulanya tidak terlalu mengacuhkannya. Tapiii... Yep, as you all know, saya terbawa arus juga! Pada Agustus 2006, blog aneh ini lahir! Dan sampe sekarang candunya masih kuat mencengkeram saya :P
Baik di Friendster maupun di blog, saya terkadang memberikan informasi 'real' mengenai diri saya. Keadaannya sungguh terjungkir balik, tidak seperti dulu lagi. Bila dulu, memberikan nama asli kepada temen IRC terasa 'haram' bagi saya, boro-boro foto, curhatan, dan informasi lainnya. Anonymity is numero uno! Walaupun begitu, saya masih mengenal batas-batas sejauh mana informasi mengenai diri saya layak untuk diketahui oleh orang lain. Bila tidak...
Bila tidak, apa?
Hehehe... Terpengaruh oleh novel nie. Saya tidak ingin cerita yang dikarang oleh Jeffery Deaver dalam The Blue Nowhere benar-benar terjadi, apalagi ke diri saya :P
Ada beberapa informasi yang sebaiknya tidak tersebar luas di internet. Semisal: nomor telepon, alamat rumah, nama ibu, nama ayah, nomor rekening bank, tempat dan tanggal lahir, asal sekolah, dan informasi-informasi sensitif lainnya.
The story ends here...
Jadi, apa kesimpulannya?
Sebisa mungkin untuk tidak mengekspos informasi pribadi. Bila memang ingin melakukannya (di situs-situs Social Networking, misalnya) dengan alasan tertentu (menjalin hubungan pertemanan, mencari ketenaran, dsb), silakan saja, asal ada batas-batas yang anda tentukan sendiri, sejauh mana anda ingin terekspos di dunia maya.
Thursday, July 24, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)













15 comment(s):
selama tidak menyinggung perasaan orang lain!
saya akan ceritakan semua yang saya pengen ceritakan!
ceilah!
yahh jangan mau jadi korban saja seperti saya.kita harus bisa membedakan mana yang dibilang privasi mana yang bukan .
kenapa gue tau ya, drimana lo dpt e-book itu. waktu itu khan loe maen di komputernya si kk itu ...
wah gak nyangka ya, ternyata :(
Apolagi orientasi S*x yang menyimpang, jangan kau kasih tau jugo samo wong drus yee
wekekekekekeke..
No Offence, J/K
PERJALANAN
--joko sutrisno
kian hari mengendap malam,
lihatlah, di ujung sana!
panjang jalan terbentang,
apa harus ku tempuh langitku?
rintang tegak berbunga merah
mengabur sudah,
patahkan tubuh ini,
biar semua jelas tanpa warna,
titik titik awal!
ya hanya itu saja,
tidak lebih,
kesempatan,
di mana?
lelah aku rapuh,
rindu lapang di tinggal kenang,
apa harus ku tempuh langitku?
(jakarta, 29 Juli 2008)
hmm, no hape, no rek, semua aku kasih di web. soalnya untuk jualan n terima transferan :D
tapi kalo nabung menabung pribadi tetep laen bank dunk :P
id dan pofil asli ku ..
hanya muncul di wonngkito...
selebihnya ....kacau
*masa lalu yg kelam
WAH!
Tau gitu gue nggak pecah telok yah! Di situ ada data gue sama foto pas maen film James Bond. Tau semua deh gue ganteng.
Bro, gw baca cerita loe koQ jadi kek baca cerita gw sndr ya.. :D
Gw juga gtu, punya bbrp tingkatan lv nama alias, udah gitu prinsip yg loe bilang jg gw pegang. Gw juga akhirnya bikin FS, tapi gaQ keurus sekarang. Terus gw jg baca loh, buku the blue nowhere! Salah 1 buku favorite gw.. ;)
Tapi yah bedanya gw ga maen blog n FB, ampe skrg gw masih pegang prinsip gw, cuman sempet "dosa" sekali gara2 kegoda FS.. :p
blog walking..
seharusnya semua yg ada dihidup kita tu adalah rahasia, jgn disebar ke orang..
Hallo. nice post, PR nya tinggi, q masih newbie. kepingin mengikuti jejaknya
btul-btul jangan suka share informasi pribadi di internet karena keamanannya tidak dapat di jamin, sekuat-kuatnya sebuah sistem pasti ada titik kelemahannya juga
artikel yang bagus sob...
privasi jagan selalu di tampilkan secara detail dlam dunia maya..karna itu bisa menimbulkan hal2 yg kurang berkenan bagi diri kita sndiri...
trus posting n update yup...
Jangan terlalu menunjukkan diri saja di internet. Ada suatu hal juga yang mesti jadi privasy. Tapi sepertinya saya juga tidak bisa untuk menolak keterbukaan di internet.
terimakasih untuk informasinya..semoga bisa memberikkan nilai manfaat untuk orang banyak..
Post a Comment